HOME DOWNLOAD MAKALAH BAHAN AJAR

Rabu, 10 Juli 2013

PERGERAKAN MAHASISWA ANGKATAN 66 DALAM PROSES TRANSISI REZIM ORDE BARU KE ORDE LAMA TAHUN 1966-1968

Oleh : Anju Nofarof H / SI 5
(suatu kajian dalam buku politik dan ideologi mahasiswa indonesia karya francois raillon)

Setiap generasi menciptakan sejarahnya sendiri ungkap Syahdan, ahli sejarah. Artinya, setiap generasi mahasiswa yang ada dan hidup pada massanya telah menggoreskan catatan emas di setiap eksistensinya dalam dinamika kehidupan masyarakat Indonesia. Seperti, tertuang dalam lirik mars mahasiswa, yang juga lahir dalam semangat revolusioner mahasiswa yang merubah perwajahan KeIndonesian pada akhir rezim orde baru (orba) 21 Mei 1998. Mengubah segala aspek kehidupan (multidimensional), masyarakat mengatakan itu Reformasi.
Setiap generasi pergerakan mahasiswa terutama dalam bidang politik, selalu ada dan tetap ada, dengan syarat mahasiswa masih diberi label sebagai agent of change dan agent of control. Tidak terkecuali angkatan 66, angkatan 66 mempunyai peranan dalam transisi rezim Orde Lama (ORLA) ke Orde Baru (ORBA).
Dalam perjalanan sejarah Indonesia abad ke 20, beberapa momentumnya selalu dikaitkan dengan kerterlibatan suatu generasi dalam momentum sejarah tersebut seperti, angkatan 1908 yang ditandai dengan momentum Sejarah modern Indonesia yakni "Kebangkitan Nasional", angkatan 1928 sebagai generasi "Sumpah Pemuda". selanjutnya, puncak dari perjuang rakyat Indonesia ialah lahirnya bangsa Indonesia secara deklarasi, pada 17 agustus 1945 disebut angkatan 45, angkatan Kemerdekaan. 1966, terjadi lagi momentum Sejarah yang mewarnai perjalanan bangsa Indonesia yakni lengsernya the founding father nya bangsa Indonesia, Soekarno. Menandai  berakhirnya rezim Orde Baru (ORBA) selanjutnya, menuju rezim Orde Lama (ORLA), pimpinan Soeharto.
Dalam tulisan Parakitri T. Simbolon –penulis dengan visi kebudayaan yang mendalam– di tahun 2006: "Apa yang pernah disebut Angkatan 66 praktis sudah dilupakan orang". Meskipun, "Angkatan 66 pernah membahana di persada Tanah Air Indonesia". Pejuang kemerdekaan Indonesia, Bung Tomo, April 1966 dengan rendah hati mengakui bahwa Angkatan 66 lebih hebat daripada Angkatan 45.
Berbeda dengan Angkatan 45 yang berjuang dengan bedil (senjata), Angkatan 66 berjuang tidak dengan senapan, tapi dengan "keberanian, kecerdasan, kesadaran politik, motif yang murni". Dengan semua itu Angkatan 66 "memberi arah baru pada sejarah nasional Indonesia". Penamaan Angkatan 66 itu sendiri, diusulkan oleh Jenderal Abdul Harris Nasution kepada KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia) yang baru saja dibubarkan oleh KOGAM (Komandan Ganyang Malaysia) 26 Februari 1966. Kendati sejarah tentang peranan Angkatan 66, telah menjadi bagian dari arsip yang berdebu sejalan berlalunya waktu, tetap saja harus dicatat bahwa generasi  muda yang bergerak waktu itu adalah kelompok paling konseptual selain tokoh-tokoh kemerdekaan tahun 1945 sepanjang sejarah republik ini.
Dalam buku "gerakan 30 september, pelaku, pahlawan dan petualang"  catatan Julius Pour menjelaskan bahwa kondisi politik di Indonesia periode 60-an memang baru lolos dari krisis. Bahkan, ancaman perpecahan kepemimpinan presiden Soekarno dikecam para sejumlah panglima militer angkatan darat (AD). Melihat Soekarno bergeming, sebagian dari merekan bertindak nekat. Mereka menuduh Jakarta menelantarkan daerah.
Angkatan 66 adalah angkatan anti Soekarno, angkatan yang berusaha untuk menjatuhkan kepemimpinan Soekarno. Keinginan mahasiswa itu sudah dimulai ketika Demokrasi Terpimpin 1959-1966. Akan tetapi, pada sidang umum MPRS 1966, mahasiswa berusaha untuk meninjau kembali dekrit tersebut. Tujuannya untuk memperlemah kedudukan Soekarno, yang pada saat itu mempunyai pengaruh dan kedudukan yang besar dalam sistem perpolitikan Indonesia. Mahasiwa Indonesia menyerang kewibawaan dan politik : "Cabut keputusan  MPRS yang bertentangan dengan UUD '45 (No.2, Juni 1966)"," Jabatan presiden seumur hidup inkonstitusional (No.1, juni 1966)". Bahwa Soekarno adalah pencipta Pancasila dipertanyakan. Pidato 9 pasal yang berjudul Nawaaksara yang dibicarakan Soekarno dimuka MPRS dinyatakan tidak memuaskan. Politik luar negeri Soekarno juga diserang, poros Jakarta-Peking mesti dihancurkan; "tinjau kembali hubungan diplomatik dengan RCC" dan konfrontasi musti dihentikan; "dukung persetujuan Bangkok". Persetujuan ini baru saja ditandatangani oleh Malaysia dan Indonesia. Mahasiswa Indonesia juga mengumumkan bahwa mulai juli, KAMI (Kesatuan Aksi Mahassiwa Indonesia) Konsulat Bandung telah mengirimkan satu delegasi ke ibu kota untuk membuat tekanan ke MPRS. Dan menegakkan kedaulatan rakyat. Cara ini kemudian akan diulangi berkali-kali.
Politik Indonesia pasca kemerdekaan diwarnai oleh sengitnya persaingan antara Soekarno dengan militer. Sebagai presiden dan proklamator Soekarno memang memiliki kekuasaan secara de facto maupun de jure.Begitu pula militer, sebagai angkatan perang mengklaim punya hak atas kekuasaan mengingat jasa mereka terhadap terbentuknya republik ini. Karena itu militer menuntut hak-hak istimewa dalam politik sehingga memiliki burgain politik yang kuat baik di hadapan Soekarno maupun di hadapan partai politik. Ketidakstabilan kekuasaan politik yang dipegang partai-partai politik membuat tentara sangat risau, apalagi saat itu negara diguncang oleh berbagai pemberontakan daerah. Maka atas desakan militer pada tahun 1957 Soekarno mengumumkan diberlakukannya Undang-Undang darurat. Hal itu memungkinkan militer bisa berbuat banyak hal tanpa dibatasi kewenangannya. 
Sejak dikeluarkannya dekrit Presiden 5 Juli 1959 dikeluarkan oleh Soekarno, Indonesia yang seharusnya sebagai negara demokrasi pembagian kekuasaannya terdiri atas tiga lembaga, legislatif, eksekutif, dan yudikatif. Tetapi dalam demokrasi terpimpin ini pembagian kekuasaan hanya ada antara Presiden Soekarno dan militer. Lalu terbentuklah partai-partai besar seperti PMI, NU, dan PKI. Kemudian situasi politik internasional semakin memanas dan mempengaruhi situasi politik nasional sehingga Soekarno semakin menggandeng PKI yang menjadi kekuatan politik yang sangat efektif. 
Kondisi Indonesia yang semakin parah akibat adanya program pemerintah yang menyita perhatian seluruh masyarakat dan biaya yang sangat besar di antaranya adalah pembebasan Irian Barat 1962 dari kolonial Belanda, konfrontasi dengan Malaysia, dan perekonomian yang merosot dengan kebijakan yang semakin memberatkan rakyat sehingga  menyebabkan inflasi dan ketegangan politik yang semakin jauh. Akhirnya meletuslah Gerakan 30 September 1965.
Mengambil momentum ini mahasiswa kembali bergerak memanfaatkan situasi untuk mengkritik keadaan. Kemudian terbentuklah Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) pada tanggal 25 Oktober 1965 yang akhirnya tersebar ke mana-mana untuk melakukan koreksi terhadap rezim yang ada.
Mahasiswa menyampaikan tuntutan-tuntutan secara spontan, lalu dirumuskan dalam sebuah konsep sederhana yaitu Tritura yang isinya menuntut pembubaran PKI, Retool kabinet  Dwikora, dan turunkan harga barang. Dideklarasikan pada 10 Juni 1966 tepat  hari kebangkitan mahasiswa Indonesia.
Berbagai aksi dilakukan dalam rangka  merubah keadaan tersebut. Mahasiswa mendapat dukungan dari militer yang dipimpin oleh Soeharto yang tentu saja bukanlah sebuah keikhlasan militer itu sendiri tetapi sebagai bagian dari struggle power (pertarungan kekuasaan) yang tidak disadari mahasiswa sendiri. Pada tanggal 16 Februari 1966, Soekarno melakukan reshufle kabinet dwikora dengan orang-orang yang punya cacat dan tidak kompeten dalam menjalankan tugas. Lalu terjadilah aksi oleh KAMI beserta Kesatuan Pemuda dan Pelajar Indonesia (KAPPI)  dengan tuntutan segera melaksanakan Tritura.
Bentrokan terjadi dan mengakibatkan gugurnya Arief Rahman Hakim yang semakin membuat gerakan mereka solid. Ketika KAMI dilarang 4 April 1966 mahasiswa membentuk Laskar Arief Rahman Hakim yang terdiri dari 42 universitas dan perguruan tinggi di Jakarta. Militer pun semakin memberikan dukungannya dan akhirnya terjadilah aksi besar-besaran oleh mahasiswa.
Kondisi keamanan yang semakin buruk dan atas skenario yang diciptakan militer, serta mahasiswa yang semakin menekan pemerintah untuk segera melakukan perubahan, akhirnya Soekarno  mengadakan sidang kabinet. Setelah mengalami desakan dan tekanan dari  berbagai pihak akhirnya Soekarno melimpahkan kekuasaan keamanan negara kepada militer yang saat itu dipimpin oleh Pangkostrad Soeharto. Militer mengambil alih pemerintahan dari Soekarno melalui Supersemar. PKI pun dibubarkan  dan mahasiswa merasa telah berhasil dalam berbagai perjuangannya. 
Terlepas dari pernah terjadinya berbagai pembelahan di tubuh kalangan pergerakan tahun 1966, mesti diakui bahwa pergerakan tersebut telah menjadi kancah tampilnya tokoh-tokoh muda yang handal secara kualitatif. Sikap altruisme juga masih menjadi faktor kuat dalam pergerakan tersebut. Ini melebihi pergerakan generasi muda berikutnya. Soeharto sendiri, semasa berkuasa berkali-kali menggunakan kemampuan tokoh-tokoh muda eks gerakan 1966 itu, baik di lembaga legislatif maupun di lembaga eksekutif. Beberapa tokoh 1966 menjadi menteri yang berhasil, meski ada juga yang ternyata menjadi bagaikan 'kacang yang lupa akan kulitnya' karena mabuk oleh bius kekuasaan.
Jangan sampai seorang aktivis mahasiswa yang telah melakukan pergerakan revolusioner, setelah itu duduk sebagai pemangku kebijakan di negara ini. SAMA !!! Dengan penguasa yang mereka gulingkan. Kejatuhan dari seorang diri manusia itu ialah lupa akan sejarahnya. Seperti yang dikatakan Winston Churchill, mantan Perdana Menteri Inggris : "Satu-satunya hal yang kita pelajari dari sejarah adalah bahwa kita tidak benar-benar belajar darinya."
Sejarah yang dia ciptakan dengan darah, air mata, harta, pengorbanan yang tidak ternilai harganya. Mereka rusak dengan Ketidak Konsistensian Pada Apa Yang Mahasiswa Perjuangaknn Selama Ini.
Pelajaran bersama untuk kita generasi mahasiswa saat ini ialah : Jangan sampai kita mengulangi kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan oleh para aktivis mahasiswa terdahulunya, yang mencederai perjuangan sejati mahasiwa. Perjuangan mahasiwa yang mengatasnamakan rakyat jangan kita rusak dengan ketidak konsistensian kita.
Jika kita mengulangi kesalahan yang sama seperti generasi mahasiswa terdahulunya maka kita akan dikutuk sebagai manusia.
George Santayana Katanya: "Mereka yang mengulangi kesalahan pendahulunya, dikutuk untuk mengulanginya."









DAFTAR PUSTAKA

Raillon,  Francois. 1985. Politik dan Ideologi Mahasiswa Indonesia. Jakarta: LP3ES.





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar