HOME DOWNLOAD MAKALAH BAHAN AJAR

Jumat, 19 Juli 2013

CUT NYAK DIEN


MELDA ARIANI/B/S13

Cut Nyak Dien adalah seorang tokoh pahlawan wanita di Indonesia yang berasal dari Aceh. Ia merupakan sosok seorang pahlawan wanita dari Aceh Barat yang mendapat julukan Srikandi Indonesia, ia lahir di Lampadang, Aceh Besar,  pada tahun 1850, dan dia merupakan anak dari Teuku Nan Setia, dan ibunya adalah keturunan bangsawan terpandang di kampung lampagar. Cut Nyak Dien lahir ketika rakyat VI sedang sibuk membangun benteng pertahanan di sepanjang Sungai Ning dan Rawa Cangkul sebagai daerah perbatasan dengan Meuraksa, pendidikan Cut Nyak Dien secara resmi tidaklah pernah diikutinya, sebagai umat Islam ia belajar mengaji Al-Qur'an, menulis dan memebaca dalam huruf Arab, dan sedikit banyaknya ia tahu tentang hukum dan peraturan agama yang di dengarnya dari ayah dan ibunya. Pada usia 12 tahun Cut Nyak Dien sudah menikah dengan Teuku Cik Ibrahim Lamnga, pada saat itu diharapkan setelah menikah bersama suaminya dia bisa mengusir belanda, karna pada saat itu hubungan antara Belanda dengan kerajaan Aceh sudah tidak akur karena Belanda ingin sekali untuk menguasai Aceh. Teuku Umar bukanlah Suami pertama Cut Nyak Dien melainkan suminya yang kedua, suaminya yang pertama meninggal atau gugur sebagai pejuang di Gle Tarum, sejak saat itulah Cut Nyak Dien berjanji akan meneruskan perjuangan suaminya, pada tahun itu juga Belanda mulai menghadapi perlawana Cut Nyak Dien dan pasukannya dengan meriam yang mereka tembakkan dari kapal-kapal mereka. Pasukan Aceh pun bergerak ke Aceh Besar dan mulai dari sanalah mereka menyerang pos-pos Belanda. Cut Nyak Dien adalah seorang pahlawan Nasional wanita yang berjuang melawan Belanda pada masa perang Aceh pada tahun 1873, ia meneruskan perjuangan suaminya yaitu Teuku Umar yang gugur saat menyerang Meulaboh pada tanggal 11 Februari 1899, sehingga ia berjuang sendirian di pedalaman Meulaboh bersama pasukan kecilnya. Cut nyak Dian merupakan seorang pejuang wanita yang tangguh dan tidak kenal menyerah.
Dalam uraian khusus mengenai Cut Nyak Dien, Pol menceritakan akibat-akibat kebuasan belanda, seperti kejadian terhadap Nyak makam yang membuat Cut Nyak Dien berdendam Kesumat terhadap Belanda, Pol menempatkan pahlawan wanita ini dalam satu kalimat "een der merkwaardigste vrouwen in Nederlandsche Indie"("salah seorang wanita yang ajaib di Hindia Belanda). Sekujur tubuh Cut Nyak Dien ditamsilkan melambangkan sikap membenci Belanda, membenci penjajahan, yaitu penjajahan yang dikenalnya dari dekat sebagai penuh dengan penindasan dan kebuasan (H. Mohammad Said, Aceh Sepanjang Abad, hal  326).  Cut Nyak Dien sangat membenci belanda, begitupun juga dengan Belanda, tetapi meskipun Belanda selalu berusaha untuk menaklukkan Cut Nyak Dien tetapi di pihak Belanda ada sebersit kekaguman terhadap Cut nyak Dien."Bahkan pihak Belanda pun mengagumi Cut Nyak Dien sebagai seorang tokoh pejuang wanita yang teguh berjuang. "Sesungguhnya pihak Belanda sendiri tanpa ragu telah menyatakan kekaguman terhadap ketangkasan Cut Nyak Dien berjuang dan keteguhan imannya. Tenaganya susut karena uzur. Namun dibanding dengan kewanitaannya, maka kesanggupannya berjuang, hingga mencapai usia yang lanjut sekali, sangatlah mengagumkan. Mungkin bangsa belanda sendiri tidak pernah mempunyai pahlawan seperti Cut Nyak Dien dan tidak akan mempunyai Joan d'Arc, maka secara naluri dan sadar Belanda sendiri sebagai musuh telah mengagumi dan menghormatinya" (H.Mohammad Said, Aceh Sepanjang Abad, hal 326).
Mantan residan Belanda Jongejans mengatakan  tentang Cut Nyak Dien  dia mengatakan bahwa sebagai istri-istri dari banyak pemimpin pejuang, Cut Nyak Dien lebih fanatik dibandingkan suaminya dalam hal tidak kenal menyerah, dimana dia senantiasa selalu mendorong dan membujuk suaminya supaya tetap jihat memerangi Belanda, dan itu merupakan salah satu penyebab utama Teuku Umar kembali lagi ke pangkuan perjuangan Aceh itu semua berkat Cut  Nyak Dien, dia menemani Teuku Umar kemana saja, turut merasakan pahit dan pedihnya perjuangan melawan penjajahan dan berusaha terus mengingatkan bahwa meski bagaimana pun tidak boleh menyerah dan harus tetap berjuang. Sejak Teuku Umar kembali mendukung perjuangan Aceh melawan Belanda akhir Maret 1896, sejak saat itu pulalah Cut Nyak Dien membulatkan tekatnya untuk berjuang mati-matian, masa yang dihadapi Cut Nyak Dien adalah berjuang atau mati, Cut Nyak Dien memilih menghadapi Belanda Di Pasi, didekat gunung Grutee wilayah Kluang dengan di dukung oleh ratusan prajurit terlatih, sedangkan suaminya menghadapi Belanda di Aceh Besar dan Pidie. Tetapi setelah suaminya bertugas di Aceh Barat Cut Nyak Dien ikut dengan suaminya.
Perang Aceh meletus pada tanggal 4 Juni 1873, pada saat itu belanda mengirim prajurit sebanyak 3.198 prajurit, sebenarnya pada tanggal 8 April 1873 belanda berhasil mendarat di pantai Ceureumen di bawah pimpinan Kohler dan langsung bisa menguasai Mesjid Raya Baiturrahman serta membakar mesjid tersebut, Cut Nyak Dien yang melihat kejadian tersebut langsung berteriak " lihat wahai orang-orang aceh!tempat ibadah kita dirusak ! mereka telah mencoreng nama Allah! sampai kapan kita begini? Sampai kapan kita akan menjadi budak Belanda" hal ini membuat Cut Nyak Dien bertambah membenci Belanda. Dalam pertempuran melawan Belanda di Meulaboh yang terjadi pada tanggal 11 Februari 1899, yang mengakibatkan terbunuhnya Teuku Umar suami dari Cut Nyak Dien, sejak kematian suaminya tersebut Cut Nyak Dien menggantikan perjuangan suaminya sebagai pemimpin para pejuang, Cut Nyak Dien melakukan serangan gerilya diberbagai daerah di Aceh dari markas besarnya di pusat bumi Aceh yang dikelilingi oleh hutan belantara menyerang ke segala bagian yang mungkin bagi pasukannya. Pada saat Cut Nyak Dien bersama pasukannya berada di pedalaman Beutong, Belanda mencoba suatu penyerangan besar-besaran sekaligus, penyerangan yang terjadi pada tahun 1901 tersebut di pimpin oleh Mayor Daalen yang terkenal sangat buas dan kejam. Dalam penyerangan ini Daalen menggerakkan tentaranya memotong dari Bireuen di pantai Selat Malaka sampai ke Meulaboh dipantai aceh barat untuk sekaligus memukul pasukan Sultan serta untuk memukul pasukan Cut Nyak Dien di pedalaman Beutong. Sebelum Mayor Daalen yang juga terkenal jahat yaitu Letnan Muda Cristoffel, dia juga pernah di tugaskan untuk menumpas pasukan Cut Nyak Dien, serangannya dilancarkan beberapa kali di sepanjang tahun 1901-1902 dan Cristoffel juga pernah bertempur dengan Cut Nyak Dien di Beutong tetapi ternyata pasukan Cut Nyak Dien berhasil memukul Cristoffer mundur ke pangkalannya. Sejak kegagalan penyerangan Cristoffer strategi perjuangan Belanda melawan pasukan Cut Nyak Dien di pusatkan ke pedalaman, dari hal tersebut membuktikan bahwa Cut Nyak Dien bukanlan lawan yang sembarangan bagi pihak Belanda.
Pengaruh Cut Nyak Dien di dalam dalam masyarakat sangatlah besar, baik penduduk di kalangan atas maupun penduduk di kalangan bawah, dari datuk-datuk, penghulu-penghulu, mulai dari yang setinggi-tingginya sampai pada yang serendah- rendahnya telah berhasil di pengaruhi oleh Cut Nyak Dien untuk melawam Belanda" apapun yang mereka lakukan adalah pokok dari karya Cut Nyak Dien. Dalam babak akhir perjuanganCut Nyak Dien, belanda sudah semakin giat mengadakan pengepungan yang semakin lama semakin ketat, maka langkah yang paling efektif adalah mengurangi jumlah rombongan sampai pada yang sekecil-kecilnya, karena semakin sedikit jumlah pasukan maka semakin tipis harapan musuh untuk mengetahui keberadaan pejuang dan seballiknya akan semakin besar kesempatan untuk menyerang musuh secara tiba-tiba. Karena semakin ketatnya kepungan Belanda, maka pasukan gerilya Cut Nyak Dien semakin di bagi-bagi dan berpencar pencar.(H.Mohammad Said, Aceh Sepanjang Abad, hal 334). Pada serangan selanjutnya yaitu pada bulan April 1905, Belanda berharap kembali untuk dapat membunuh Cut Nyak Dien  ditempat persembunyiannya, namun untuk kesekian kalinya harapan Belanda tersebut pupus karena Cut Nyak Dien yang terkenal dengan ketangkasannya tersebut sudah menghindar dengan secepat mungkin dari serangan tersebut, akiabat dari serangan tersebut berkurangnya alat-alat pendukung yang dibutuhkan untuk setiap operasi gerilya, dan Cut Nyak Dien terpaksa mencari tempat pesembunyian yang sangat jauh dan juga semakin jauh dari pergaulan manusia, yaitu kedalam hutan rimba yang tidak mungkin dapat dicari lagi, hal ini dilakukan oleh Cut Nyak Dien sambil menanti waktu yang baik untuk menghimpun kembali tenaga dan hal –hal yang diperlukan dalam perjuangan.
Masa tua dan kematian Cut Nyak Dien


Setelah sekiah lama berjuang melawan penjajah Cut Nyak Dien sudah semakin tua, matanyapun sudah tidak jelas lagi kalau melihat, badannyapun sudah semakin rapuh tetapi semangat juangnya tetap membara. Di tengah kesulitan hidup dalam hutan timbullah pandangan di kalangan sebagian pengagum Cut Nyak Dien bahwa terlalu mahal bakti yang harus di bayar oleh seorang wanita lemah dan tua seperti dia. Panglima Laot adalah pengukut Cut Nyak dien yang pertama menasehakan agar wanita pahlawan itu menyerah saja kepada Belanda, sebab sudah sia-sia melanjutkan perlawanan. Tapi, ketika diketahui oleh Cut Nyak Dien bahwa panglima Laot sungguh-sungguh serius dengan anjurannya, maka  bangkitlah amarahnya, panglima Laot di usirnya dan tidak boleh mengikutinya lagi. "Panglima Laot  sudah tidak tahan lagi membayangkan  penderitaan yang hadapi oleh Cut Nyak Dien, maka dia pun memutuskan untuk melaporkannya kepada Belanda, tidak berapa lama panglima Laot mendatangi sebuah bivak Belanda di pedalaman aceh yang di pimpin oleh Letnan Vuuren. Kepada pihak Belanda Laot memberi tahu bahwa dia datang bukan untuk menyerah diri. Jika dirinya disentuh dia siap mati melawan. Dia datang, katanya untuk mengkhianati Cut Nyak Dien dengan menyerahkan kepada Belanda. Syaratnya adalah Cut Nyak Dien harus dijaga sebaik- baikya. (H.Mohammad Said, Aceh Sepanjang Abad, hal 337)". Berangkatlah Panglima Laot yang di suruh oleh orang Belanda untuk mencari Cut Nyak Dien, setelah sekian lama mencari, hinnga pada akhirnyaVeltman dan pasukannya menyiapkan pengepungan lokasi Cut Nyak Dien di tempat istirahatnya, Belanda mengadakan penyerangan kebetulan saat itu keadaan sedang sepi yang ada hanya Cut Nyak Dien dan puterinya nya Cut Nyak Gambang anaknya dengan almarhum Teuku Umar, Gambang melakukan perlawanan tetapi tiba-tiba peluru Belanda menembus badannya karena tidak dapat melakukan perlawanan  lagi ia di suruh lari untuk menyelamatkan diri oleh ibunya. Tetapi saat itu Cut Nyak Dien tetap melakukan perlawanan dengan mengeluarkan rencong nya dan mengamuk dengan mencari mangsa sekelilingnya, tetapi panglima Laot dengan tangkas menangkap lengan Cut Nyak Dien sambil memijat kuat sampai rencong itu jatuh. Pada satat di tangkap oleh belanda Cut Nyak Dien memang sudah sangat uzur, sehingga saat membawanya ke Meulaboh menggunakan tandu, sesampai di Meulaboh Cut Nyak Dien di berangkatkan dengan kapal ke Kutaraja. Pada awal tahun 1907 Cut Nyak Dien di asingkan oleh Belanda ke Sumedang, Jawa Barat. Pada tanggal 6 November 1908 Cut Nyak Dien meninggal  karena usianya yang sudah sangat tua dan makamnya baru ditemukan pada tahun 1959.

DAFTAR PUSTAKA
Said Mohammad .H, Aceh Sepanjang Abad, Harian Waspada Medan, 2007
Ibrahim Muchtaruddin, Cut Nyak Din, Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional dan Nilai Tradisional Direktorat Jendrak Kebudayaan,Jakarta,1996
http://www.kumpulansejarah.com/2013/01/sejarah-hidup-cut-nyak-dhien.html
wikipedia Bahasa Indonesia

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar