Jumat, 26 Juli 2013

faktor-faktor pendorong lahirnya pergerakan kebangsaan

ANISA FIRDA RAHMA/SI 3
1.      Pendahuluan
Tahun 1908 adalah titik permulaan bangkitnya kesadaran nasional. Pada tahun itu lahirlah organisasi pergerakan nasional yang pertama, yang kemudian disusul oleh organisasi-organisasi lainnya. Dengan demikian perjuangan bangsa Indonesia untuk mencapai kemerdekaan itu telah memasuki tahap baru, yang lain sifatnya dengan perjuangan masa sebelumnya.
Mengenal sifat-sifat perjuangan setelah tahun 1908 itu adalah:
  • Bersifat nasional, artinya telah terjadi kerja sama antar daerah di Indonesia.
  • Menggunakan organisasi yang teratur.
  • Tidak tergantung pada satu pimpinan. Artinya, jika pimpinan ditangkap dapat digantikan oleh yang lain.
2. Faktor – faktor pendorong lahirnya pergerakan kebangsaan
            Faktor – faktor yang mendorong lahirnya pergerakan kebangsaan dalam masyarakat pribumi Indonesia (Hindia Belanda) dapat dipilahkan dalam 2 faktor, yaitu: faktor internal dan faktor eksternal, faktor internal datang dari kondisi atau realitas sosial, ekonomi, politik masyarakat pribumi berkaitan dengan kolonialisme belanda. Sedangkan faktor eksternal berasal dari luar wilayah Indonesia yang ikut mempengaruhi bangkitnya kesadaran berbangsa di kalangan masyarakat pribumi Indonesia (Hindia-Belanda).
            Pertama, faktor internal meliputi beberapa fenomena/gejala, kejadian/peristiwa sebagai berikut:
1.      Penderitaan masyarakat pribumi akibat kebijakan pemerintah kolonial, terutama sejak diberlakukannya politik tanam paksa/cultuurstelsel(1830-1879) dan politik liberal/Open Door Policy (1870-1900). Penderitaan rakyat pribui diantaranya proses pemiskinan secara struktural (poverty process), kelaparan, wabah penyakit, ketercerabutan atau keterasingan (alineation) dari akar- akar budaya tradisionalnya. Kesamaan penderitaan ini menimbulkan perasaan senasib sepenanggunngandari beberapa golongan dan mendorong terjadinya proses integrasi nasional.
2.      Lahirnya golongan intelektual, cerdik-pandai atau cendekiawan sebagai akibat dari kebijakan pemerintah kolonial Belanda yang mengembangkan pendidikan untuk masyarakat pribumi indonesia (Hindia-Belanda).
3.      Program Pax-Neerlandica dari gubernur jenderal J.B. van Heutz (1904-1909) yang ditindak lanjuti dengan langkah kebijakan pasifikasi mensyaratkan pembangunan sarana-prasarana transportasi dan komunikasi. Hal ini ikut memudahkan bagi masyarakat pribumi Indonesia untuk menjalin interaksi dan komunikasi satu sama lain, serta penyebar luasan gagasan nasionalisme.
4.      Program Desentralisasi tahun 1803 berupa pelimpahan wewenang dan kekuasaan dari tangan gubernur jenderal kepada residen memberikan kesempatan bagi masyarakat pribumi untuk menjadi pegawai pamong praja dan melatih dalam hal administrasi pemerintahan.
5.      Kebijakan Ordonansi Perkawinan tahun 1895 yang isinya mewajibkan semua penduduk pribumi di pulau jawa dan Madura yang berada di luar kerajaan Mataram yang tidak memeluk agama kristen agar kawin dan cerai menurut hukum agama islam. Kebijakan ini menjadi titik temu antara islam dan pribumi yang memposisikan Belanda sebagai musuh bersama. Dalam pandangan islam, Belanda adalah kafir kitabi yang harus dilawan.s4ementara itu, kalangan pribumi juga menganggap Belanda sebagai golongan asing yang harus diusir. Keluarnya ordonansi Perkawinan ini menimbulkan dampak bahwa orang merasa terbiasa dan merasa yakin untuk menyatakan diri sebagai orang islam. Wertheim, sosiolog Belanda, dalam bukunya,indonesian Society in Transition, menganalisis:"… dengan menyatakan diri sebagai orang islam, orang menunjukkan diri sebagai pecinta tanah air sejati, dan bukan simpatisan pemerintah kolonial Belanda."
6.      Inspirasi dari dua kerajaan besar, yakni Sriwijaya dan Majapahit, yang fakta-fakta sejarahnya diungkap oleh para sarjana Belanda/Brat sendiri seperti N.J. Krom, Brandes, dan Casparis.
7.      Adanya kepercayaan rakyat terhadap kedatangan pemimpin seorang pemimpin agung, Ratu Adil, dan ramalan Jayabaya, yang mencerminkan keinginan rakyat hidup mandiri dan merdeka.
Kedua, faktor eksternal, diantaranya sebagai berikut:
1.      Masuknya ide, konsep, wacana atau ideologi dari barat seperti : Nasionalisme, Demokrasi, hak-hak Asasi manusia (HAM), Feminisme/Perjuangan Emansipasi Wanita, dan lain-lain ikut menumbuhkan kemandirian dan kesadaran berbangsa.
2.      Berkembangnya gerakan modernisme atau pembaruan Islam Modern yang dimotori oleh tokoh-tokoh dari mesir seperti Sayid jamaluddin Al-Afghani (1839-1897), Syeikh Muhammad Abduh (1849-1905), dan Sayid Muhammad Rasyid Ridha (1865-1938) ikut menumbuhkan kesadaran berbangsa di kalangan masyarakat Muslim Indonesia (Hindia-Belanda). Hal ini karena pokok pikiran utama Gerakan Pembaharuan islam Modern adalah integrasi antara islam dengan kehidupan modern (barat) yang ditandai oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek).
3.      Peperangan yang terjadi antara Jepang dan rusia (1904-1905)di selat Tsusyima yang dimenangkan oleh pihak jepang. Kemenangan jepang telah membangkitkan rasa percaya diri dan kesadaran bangsa-bangsa berkulit warna (bangsa-bangsa asia) bahwa mereka dapat mengalahkan bangsa-bangsa berkulit putih (bangsa-bangsa Eropa). Dengan kata lain kemenangan jepang atas rusia telah meruntuhkan mitos Superiority Of White (keunggulan ras kulit putih).
4.      Pengaruh yang ditimbulkan oleh bperkembangan gerakan nasionalisme di berbagai wilayah, seperti: anak benua India (lahirnya organisasi All Inia National Congress tahun 1855 dan Muslim League tahun 1906), Turki (gerakan turki muda pada awal abad XX), gerakan serupa di Filiphina yang di pimpin oleh Jose rijal.
Sementara itu, kahin (1995:50-54) menganalisis bahwa nasionalisme Indonesia tumbuh dan berkembang melaui 4 saluranpenting.
1.      Derajat homogenitas agama yang tinggi dari masyarakat Indonesia di mana lebih dari 90% penduduk Indonesia beragama islam. Dalam hal ini, Islam tampil sebagai simbol kelompok untuk melakukan perlawanan terhadap kekuatan asing dan penindas yang agamanya berbeda (penjajah Belanda yang agamanya kristen). Tindakan represif pemerintah kolonial Belanda terhadap kaum muslim Indonesia justru membuat agama islam makin berkembang luas.
2.      Perkembangan bahasa kesatuan Indonesia kuno yang asal usulnya dari bahasa melayu pasar menjadi bahasa nasional, yakni bahasa indonesia. Penggunaan bahasa Indonesia telah menimbulkan ras percaya diri yang besar di kalangan berbagai kelompok masyarakat Indonesia, sebagai sebuah senjata psikologis yang menggetarkan.
3.      Integrasi nasionalisme bangsa Indonesia sedikit banyak juga disumbangkan oleh kehadiran Volksraad (dewan rakyat), semacam Majelis Perwakilan Tertinggi bagi seluruh rakyat Indonesia. Volksraad ini dibentuk pada tahun 1917 pada masa Gubernur Jendral Van Limburg Stirrum, dengan fungsi baru sebatas sebagai dewan penasihat. Pentingnya lembaga ini ialah dapat menyatukan semua orang Indonesia dari berbagai wilayah kepulauan, dan membuat mereka lebih sadar mengenai masalah relasi mereka dengan pemerintah Kolonial Belanda.
4.      Pertumbuhan dan persebaran nasionalisme Indonesia juga diransang oleh cara-cara penyebaran gagasan-gagasan nasionalisme dan gagasan-gagasn lainnya melalui surat kabar, majalah dan radio (media massa). Sebagai contoh, surat kabar Indonesia yang pertama kali terbit ialah Bromartini. Surat kabar ini terbit di surakarta pda tahun 1855, tiga tahun setelah terbitnya surat kabar Belanda, java bode. Pada tahun 1860 terbit surat kabar Slompret Malajoe di semarang yang berbahasa melayu. Dalam tahun 1862, menyusul terbit surat kabar Bintang Timoer di Surabaya dan surat kabar Matahari di jakarta.
DAFTAR ISI
Suwarno, 2011. Latar Belakang dan Fase Awal Pertumbuhan Kesadaran Nasional. Purwokerto: Putera Pelajar.
Poesponegoro,Marwati Djoened. 2008. Sejarah Nasional Indonesia V: Zaman Kebangkitan Nasional dan Masa Hindia Belanda. Jakarta: Balai Pustaka.
http://sejarahnasionaldandunia.blogspot.com/2013/03/latar-belakang-munculnya-pergerakan.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar