HOME DOWNLOAD MAKALAH BAHAN AJAR

Selasa, 23 Juli 2013

PANGERAN DIPONEGORO

ELISTER SIAGIAN/SI3
A.Riwayat Singkat Pangeran Diponegoro
Pangeran Diponegoro sebenarnya masih keturunan kesultanan Yogyakarta.Ia merupakan anak dari Pangeran Adipati Anom(Sultan Hamengkubuwono III).Namun ketika Sultan Hamengkubuwono meninggal,ia tidak berhak atas kekuasaan kesultanan dikarenakan ia hanyalah anak dari seorang selir Hamengkubuwono III.Akhirnya kesultanan jatuh kepada anak sultan Hamengkubuwono III yang lain dari ibu yang keturunan kebangsawan yaitu Sultan Hamengkubuwono IV.
Pada masa Sultan Hamengkubuwono V berkuasa,Pangeran Diponegoro kecewa dengan keadaan istana.Kemudian ia memutuskan untuk tinggal di Desa Tegalrejo,Yogyakarta untuk lebih memusatkan perhatiannya pada bidang agama,adat,dan kerohanian.
B.Perlawanan Pangeran Diponegoro (1825-1830)
Sejak pertengahan abad ke-17 secara bertahap kekuasaan Belanda(dulu VOC) semakin kuat tertanam ke Jawa dan kemudian ke pulau-pulau lainnya.Di Mataram,sejak pertengahan abad ke-18 Belanda memegang hak untuk menentukan siapa yang akan dilantik sebagai Sunan.
Jatuhnya pelabuhan-pelabuhan di Pantai Utara Jawa ke tangan Belanda,menyempitkan wilayah kekuasaan Mataram,serta campur tangannya dalam pengangkatan raja,menyebabkan Mataram kehilangan kekuatannya.Kesulitan lain yang dihadapi pihak kraton adalah timbulnya perpecahan,perebutan kekuasaan,yang setiap kali muncul selalu diakhiri dengan pemberian konsensi-konsensi yang menguntungkan Belanda dan menghancurkan Mataram sendiri.
Sementara itu kehidupan rakyat semakin tertekan karena bermacam jenis pajak memberatkan kehidupannya.Para Bangsawan banyak yang kecewa dan merasa dirugikan oleh berbagai peraturan pemerintah jajahan Belanda,setelah Belanda kembali menerima jajahannya dari Inggris.Diantara peraturan yang merugikan pihak bangsawan itu adalah larangan mempersewakan tanah kepada pihak swasta asing.Masih ingatkah anda tentang hal ini?Ya,peraturan dari Van Capellen.Kalangan agama juga merasa kecewa dengan masuknya kekuasaan Belanda di kalangan istana ini.Masuknya kebiasaan Barat dikalangan istana  seperti minum-minuman keras sangat mencemaskan para pemuka agama.Hal ini bisa meluas dikalangan masyarakat dan dengan sendirinya dapat menjurus kepada perbuatan-perbuatan yang tidak selaras dengan ajaran agama.Dengan urain singkat di atas kiranya dapat disimpulkan bahwa rasa tidak puas dengan keadaan dan kebencian kepada Belanda terdapat di semua lapisan masyarakat,rakyat biasa,bangsawan,pemilik tanah,kalangan istana,dan pemuka agama.Saat pecahnya pemberontakan hanya menunggu munculnya seorang pemimpin yang dapat dijadikan tumpuan harapan semua pihak dan saat itu segera tiba.
Pangeran Diponegoro,sebagai salah seorang wali dari sultan yang belum dewasa,merasa kecewa dengan kuatnya pengaruh Belanda dalam kehidupan istana.Sementara itu,Belanda melakukan tindakan yang sangat menyinggung perasaan dan kehormatan Pangeran Diponegoro.Tanpa se izin Pangeran Diponegoro,Belanda membuat jalan kereta api dengan melintasi tanah pemakaman leluhur Pangeran Diponegoro.Ketegangan antara kedua belah pihak akhirnya mencapai puncaknya.Pada tanggal 20 Juli 1825 Pangeran Diponegoro mengangkat senjata.Rakyat berbondong-bondong menyatakan kesiapannya untuk berjuang di pihak Diponegoro.Pangeran Diponegoro meninggalkan Tegalrejo setelah Belanda membakar tempat tinggal beliau.Diponegoro menyingkir ke bukit Selarong.Perlawan Diponegoro itu ternyata mendapat sambutan luas diberbagai tempat dan berbagai kalangan masyarakat.Gelora perang Sabil dikumandangkan ke seluruh Mataram.Diponegoro mendapat dukungan penuh dari Pangeran Mangkubumi,Kyai Mojo(penasihat keagamaan) dan Sentot Prawirodirjo(pembantu utama di bidang strategi militer).
Perlawan rakyat meluas.Daerah-daerah yang bangkit melawan Belanda adalah Pacitan,Purwodadi,Banyumas,Pekalongan,Semarang,Rembang dan Madiun.Pertempuran besar terjadi di berbagai tempat.Sampai tahun 1827 pengikut Diponegoro banyak memperoleh kemenangan dalam perang.Luasnya daerah peperangan serta taktik Gerilya yang dilancarkan pasukan-pasukan Diponegoro,memaksa Belanda untuk mengerahkan segala kekuatannya.Upaya mengadakan perdamain pada tahun 1827 gagal.Belanda kemudian menjalankan siasat perang yang terkenal,yaitu"Benteng Stelsel".Sistem benteng ini dimaksudkan untuk mempersempit ruang gerak pasukan Diponegoro.
Belanda terus-menerus meningkatkan kekuatannya dengan mendatangkan pasukan baru dari berbagai daerah.Menjelang tahun 1829 kekuatan pasukan Diponegoro mulai terdesak.Beberapa pembantu Diponegoro terpaksa menyerah atau tertangkap.Pangeran Suryamataram dan Ari Prangwedono tertangkap.Pangeran Serang dan Pangeran Notoprojo tertangkap.Sentot Prawirodirdjo menyerah pada tahun 1829,beberapa pemimpin lainnya gugur dalam peperangan.Pangeran Mangkubumi sendiri menyerah pada bulan September 1829,beberapa pimpinan lainnya gugur dalam peperangan.Sementara itu Kiyai Mojo telah lebih dahulu ditangkap oleh Belanda.Sungguh,Pangeran Diponegoro mendapat pukulan berat,namun demikian semangat juang tetap berkobar.Beliau tetap teguh pada pendiriannya untuk berjihad melawan kekuasaan asing dari tanah Jawa.
Pada awal 1830 Belanda berusaha untuk mengakhiri perang secepatnya.Jenderal De Kock berusaha mengadakan pembicaraan dengan Pangeran Diponegoro.Dijanjikan perlakuan jujur dan ksatria.Diponegoro boleh melanjutkan perang jika perundingan gagal.Demikianlah pada tanggal 21 Februari 1830 Diponegoro beserta pasukan pengiringnya datang ke Bukit Menoreh,selanjutnya pada tanggal 8 Maret 1830 tiba di kota Magelang.Perundingan diadakan di rumah residen Kedu pada tanggal 28 Maret 1830.Pada waktu itu Jenderal De Kock sudah mengatur siasat untuk menangkap Pangeran Diponegoro jika perundingan menemui jalan buntu.Didalam perundingan Diponegoro menuntut agar Belanda mengakui Diponegoro sebagai pemimpin umat islam seluruh Jawa,perundingan ternyata gagal.Belanda meninggalkan sikap ksatria yang dijanjikannya.Diponegoro ditangkap,dengan kreta yang dipersiapkan,Diponegoro diangkut ke Semarang selanjutnya dibawa ke Batavia,pada bulan Mei 1830 diangkut ketempat pembuangannya ke Manado.Pada tahun 1834 dipindahkan ke Makassar,dimana pangeran pejuang ini wafat pada tanggal 8 Januari 1855.Mengenai nasib para pembantunya dapat dikemukakan antar lain bahwa Sento Prawirodirdjo yang menyerah pada Belanda,pernah dikirim ke Sumatra Barat untuk memerangi kaum Padri,tetapi  ternyata ia malah melakukan tindakan yang tidak diharapkan Belanda yaitu,mengadakan perundingan dengan kaum Padri.ia ditarik kembali dan selanjutnya diasingkan ke Bengkulu,dimana ia wafat pada tanggal 17 April 1855.Kiyai Mojo diasingkan ke Minahasa beliau meninggal pada tanggal 20 Desember 1849 dan dimakamkan di Tondano.
Perlu diketahui,bahwa perlawanan Diponegoro ini ternyata mempunyai pengaruh sangat besar di Mataram.Belanda mengalami kerugian cukup berat 15.000tentaranya tewas dalam perang diantarnya 8.000 orang Eropa sisanya pasukan pribumi,perang ini juga makan biaya besar 20 juta gulden dihabiskan untuk memadamkan perang Diponegoro,serta kerusakan lain yang diderita oleh penguasa perkebunan asing yang dibakar dan dirusak.Bagi Mataram perang ini juga menyebabkan semakin lemahnya kedudukan Sultan dan semakin kuatnya cengkeraman kekuasaan Belanda di lingkungan istana.
Setelah kita ketahui,setelah perang berakhir Belanda kemudian terpaksa mencari jalan pintas untuk menebus kerugian material akibat perang ini,dan juga perang kemerdekaan di Belgia,dengan melaksanakan Tanam Paksa yang sangat memberatkan kehidupan rakyat itu.
DAFTAR PUSTAKA
Tim Bina Karya Guru, 2003, IPS TERPADU JILID 2, Jakarta:Erlangga
Dra.Aziz Mahela dan Asril,s.pd, 2006, SEJARAH INDONESIA 3,Pekanbaru: Cendikia Insani

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar