HOME DOWNLOAD MAKALAH BAHAN AJAR

Minggu, 14 Juli 2013

PERJUANGAN DEWI SARTIKA MEWUJUDKAN CITA-CITA


By: Robiana / SI5

Kedudukan kaum wanita dalam masyarakat Indonesia dari zaman ke zaman menunjukkan adanya perubahan. Pada mulanya ia mempunyai tempat yang sangat baik, mendapat penghargaan dan derajat yang sama dengan kaum pria. Sejarah menunjukkan bukti-bukti tentang hal ini. Hampir diseluruh daerah di Indonesia pernah mengalami pengaruh besar dari penguasa wanita dalam pemerintahan.
Beberapa contoh kepemimpinan wanita, misalnya Ratu Sima dari kerajaan Kelling, Tribhuwanatunggadewi dari wangsa Isyana. Di Jawa Barat, dalam cerita-cerita rakyat dikenal juga peranan ratu. Dalam cerita patung Lutung Kasarung misalnya Sunan Ambu adalah Batari yang berkuasa di Kahyangan, puteranya Lutung Kasarung adalah suami dari ratu Purbasari, mengajarkan kepada rakyatnya ilmu bertani padi. Istrinyalah yang berhak menjadi raja, suaminya hanya bertindak menjadi pendamping.
Kemunduran posisi wanita dalam masyarakat disebabkan beberapa hal. Feodalisme yang berkembang dizaman Mataram menempatkan isteri sebagai lambang status sang pria, menggeser tempat wanita dari kedudukan subjek menjadi objek.

Kehidupan Semasa Kecil
Dewi Sartika dilahirkan pada tanggal 4 desember 1884, adalah putrid pertama dan anak kedua dari R. Raden Rangga Somanagara, Patih Bandung, Ibunya adalah R.A Rajapermas, putri Bupati Bandung R.A.A Wiranatakusumah IV, yang terkenal dengan sebutan Dalem Bintang.
    Gedung kepatihan, yang terletak dijalan Kepatihan di tenah-tengah kota Bandung, merupakan sebuah bangunan besar dari bahan setengah batu, bergaya bangunan pribumi tempat kediaman kaum priyayi. Disinilah Dewi Sartika dibesarkan bersama-sama dengan saudara-saudaranya, R. Somamur, R. Junus, R. Entis dan R. Sari Pamerat dalam lingkungan kehidupan keluarga yang harmonis. Dewi Sartika tidak pernah kesunyian, hari-harinya penuh dengan kesibukan dan permainan ditengah-tengah kehidupan orangtuanya yang menduduki jabatan tinggi dalam pemerintahan.
Sebagai orangtua yang berpandangan jauh kedepan dan peka terhadap gerak zamannya, Patih Bandung ini telah memberikan pendidikan dasar yang baik kepada putera-puterinya. Ini bukanlah suatu kebijakan yang umum pada waktu itu, karena pendidikan melalui lembaga lembaga (sekolah) masih baru sekali, apalagi untuk anak perempuan, bahkan dari golongan priyayi sekalipun.

Perjuangan Untuk Mewujudkan sebuah Cita-cita
Pada umumnya pendidikan yang diberikan dirumah-rumah semacam ini diberikan menurut kebiasaan masyarakat setempat dan alakadarnya. Gadis-gadis ini belajar memasak, menjahit, melayani orangtua makan, menata meja makan dan sopan-santun. Peristiwa-peristiwa yang lucu dan sekaligus menyedihkan adalah saat para calon suami gadis-gadis tersebut berkirim surat, maka mereka meminta tolong kepada Dewi Sartika untuk membacakan suratnya. Dan adakalanya para gadis baru bisa membaca setelah mereka menikah Karena belajar dengan suaminya.
Disatu pihak hal ini telah menimbulkan kesadaran dalam diri Dewi Sartika akan keadaan yang menyedihkan kaumnya. Gadis-gadis ini yang notabene nya berasal dari kaum bangsawan yang dalam masyarakat feodal merupakan lapisan terpandang dan dimasa depan akan mendampingi suami sebagai isteri pemimpin daerah, dalam kenyataannya mereka buta aksara dan kurang sekali dalam pengetahuan umum dalam dunia sekitarnya. Keadaan ini semakin menanamkan benih yang subur dalam tumbuh dalam hati dan fikiran Dewi Sartika untuk sesuatu bagi kaumnya. Menurut pendapat Dewi Sartika pendidikan dapat mengubah dan memperbaiki nasib mereka, seperti tersirat dalam nasihatnya kepada murid-muridnya dikemudian hari, ketika Sekolah Isterinya berhasil didirikan, "anak-anakku, sebagai perempuan kalian harus memiliki banyak kecakapan agar mampu hidup1".

Menerobos Rintangan Pertama
Sekembalinya Dewi Sartika dari Bandung, hasratnya untuk membuka sekolah bagi gadis-gadis remaja semakin besar. Hal ini didorong oleh keluarganya sendiri. Untuk mewujudkan keinginannya Dewi Sartika menghadap bupati Bandung. Pada mulanya Bupati Bandung tidak menyetujui keinginan Dewi Sartika untuk membuka sekolah untuk anak-anak perempuan, karena menurut pendapatnya akan mendapat tantangan yang keras dari masyarakat. Sekolah untuk perempuan yang diusahakan oleh puteri priyayi jelas bertentangan dengan kode kebangsawanan.
Akan tetapi, penolakan ini tidak membuat Dewi Sartika putus asa. Berulangkali permohonan ini diajukan kepada bupati, dan akhirnya bupati menyetujui maksud memajukan pendidikan kaum perempuan ini dalam hatinya yang sebenarnya, meluluskan permintaan ini.
    Pada pagi hari tanggal 16 januari 1904, di Paseban yang terletak di halaman sebelah barat Kabupaten Bandung, dibukalah untuk pertama kalinya sebuah sekolah untuk anak-anak gadis. Berdirilah Sekolah Isteri, sekolah yang pertama untuk jenisnya bagi seluruh Indonesia.
Tindakan ini merupakan sebuah hasil pemikiran yang mendalam dan memakan waktu yang agak lama, berdasarkan pengalaman pribadi dalam menghayati penderitaan tragedy keluarga antara yang lain yang disebabkan karena keterbelakangan dan ketergantungan wanita pada zamannya. Kemerosotan dan kemunduran kaum wanita yang tertulis dalam sejarah bangsa, merupakan akibat dari bertemunya berbagai keburukan bermacam-macam sistem, yang pada puncaknya membawa kaum wanita kedalam kedudukan yang tidak berdaya menjadi boneka permainan atau budak kaum lelaki.
    Pada waktu Dewi Sartika telah berhasil mendirikan sekolahnya yang pertama untuk gadis, dan kini berusaha untuk mengembangkannya ditingkat tinggi dimana keputusan harus diambil demi kesejahteraan penduduk umumnya diseluruh Indonesia, masalah ini masih tetap merupakan persoalan yang mentah.
Meningkatnya jumlah pengunjung sekolah dikalangan wanita, jelas menguntungkan dan akan memajukan kedudukan kaum wanita. Untuk memberikan tanggapan yang positif terhadap tantangan masyarakat yang haus akan pendidikan ini, pengurus Kautamaan Isteri memperlebar kegiatannya, dengan membuka sekolah baru. Pada tahun 1913 dibuka Sekolah Kautamaan Isteri II di Bandung, dan sekolah Kautamaan Isteri lainnya di Tasikmalaya tahun 1913, Padang Panjang 1915, Sumedang 1916, Cianjur tahun 1916, Ciamis tahun 1917, Cicurug tahun 1918, Sukabumi tahun 19262.

Memetik Hasilnya
Apabila ditanyakan kepada Dewi Sartika, wanita yang bagaimanakah yang hendaknya terbentuk, apabila ia sudah melewatkan sebagian dari tahun-tahun remajanya dalam asuhan pendidikan Kautamaan isteri?
Maka jawabnya adalah gadis remaja tamatan Sekolah Kautamaan Isteri hendaknya ia bisa hidup.
Karena keterbelakangan kehidupan kaum wanita mempunyai pengaruh besar terhadap kehidupan bangsa, karena wanita adalah ibu bangsa. Karena pendidikan, wanita bisa mempunyai kedudukan sosialnya sendiri, tidak tergantung pada kedudukan atau status suami dalam masyarakat. Kemandirian wanita dalam aspek ekonomi dan sosial ini dapat mengangkat derajatnya yang selama ini tidak sama sekali. Dengan harapan-harapan tersebut Sekolah Kautamaan Isteri menhasilkan tamatan pendidikannya. Sebagian dari mereka ada yang meneruskan pelajarannya ke sekolah jururawat, bidan, untuk calon guru yaitu ke Sekolah Van Deventer.
    Dengan berbagai cara Dewi Sartika berusaha untuk memperkenalkan sekolah yang dipimpinnya, baik kepada masyarakat luas maupun kepada pihak pemerintah. Usaha ini bermaksud, kecuali mendapat simpati dan dukungan, juga memasyarakatkan pendidikan gadis yang dipimpinnya.
    Setelah melewati masa-masa yan serba sulit selama Perang Dunia I berlangsung, pada tahun 1922 Pemerintah Hindia Belanda menganugerahkan bintang perak kepada Raden Dewi Sartika, sebagai penghargaan atas jasa-jasanya bagi pendidikan anak-anak gadis.
    Pada tahun 1929 bersamaan dengan genapnya 25 tahun berdirinya Sekolah Kautamaan Isteri mula-mula bernama Sekoalh Isteri, pemerintah memberikan hadiah berupa gedung baru, sebuah bangunan permanen terbuat dari bahan batu. Dihadiri oleh banyak pembesar yang mangucapkan selamat kepada Dewi Sartika yang mengucapkan selamat kepada Dewi Sartika Karena telah menjadi pengajar selama 25 tahun tanpa cacat dan cela, dan semenjak saat itu sekolah Kautamaan Isteri terkenal dengan Sekolah Raden Dewi.
    Pada 16 januari 1939, diadakan upacara peringatan 35 tahun berdirinya Sekolah Raden Dewi ini pula Dewi Sartika memperoleh bintang emas dari pemerintah, sebagai penghargaan atas jasa-jasanya yang telah dilakukan kepada masyarakat. Bintang emas ini adalah penghargaan yang lebih tinggi dari pada bintang perak yang diperoleh Dewi Sartika pada tahun 1922.

Keharibaan Allah Swt
    Pada waktu tanah air sedang mengalami peperangan, Dewi Sartika pergi meninggalkan dunia yang fana ini, pulang ke Rahmatullah pada hari kamis, tanggal 11 september 1947, jam 09:00wib di tengah-tengah keluarga dirumah sakit Cineam dalam usia 63 tahun.
    Pelopor dalam bidang pendidikan bagi kaum wanita ini meninggal sesudah melihat tanah air dan bangsanya berhasil memproklamasikan kemerdekaannya, akan tetapi masih sedang berjuang untuk memperjuangkan kemerdekaan tersebut dari Belanda yang ingin kembali berkuasa dinegeri ini.
    Lahirnya gerakan-gerakan wanita serta kongres-kongres perkumpulan wanita yan menyatukan organisasi-organisasi wanita kedalam satu ikatan. Dalam Kongres Perempuan Indonesia bulan dessember 1998, telah merupakan tonggak sejarah dalam perjuangan perbaikan nasib kaum wanita.
    Dapatlah dikatakan, bahwa tidak mungkin kemajuan ini dapat dicapai tanpa mengayunkan langkah yang pertama. Dan dalam langkah yang pertama ini, peranan Dewi Sartika tidaklah kecil. Dalam memperjuangkan kaum wanita.
    Kemudian pada tahun 1966 Pemerintah Republik Indonesia memenuhi harapan penduduk Jawa Barat, terutama kaum ibunya. Dengan mengangkat Dewi Sartika sebagai pahlawan kemerdekaan nasional. Dengan pertimbanangan perjuangannya dimasa silam.
    Pengangkatan ini dinyatakan dengan dikeluarkannya Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 25 tertanggal 1 desember 1966, dengan ditandatangani presiden Soekarno.



DAFTAR PUSTAKA

Wiriatmadja, Rochiati, DEWI SARTIKA;1983,DEPDIKBUD
Mirnawati, KUMPULAN PAHLAWAN NASIONAL:2012,Penebar Swadaya Group

1 komentar: