Selasa, 23 Juli 2013

PERLAWANAN DIPONEGORO (1825-1830)


Dahrial Hamidi / A/SI3
 Sejak kedatangan Belanda di Jawa Tengah, kerajaan Mataram mengalami kemerosotan. Wilayah kerajaan semakin sempit karena banyak daerah diambil alih oleh Belanda sebagai imbalan atas bantuannya.
            Tindakan-tindakan yang dilakukan oleh Belanda ini menimbulkan rasa benci dari golongan-golongan rakyat banyak atau rakyat jelata. Walaupun keadaan sudah mulai panas namun golongan-golongan itu masih menunggu datangnya seorang Ratu Adil yang dapat memimpin mereka dalam menghadapi Belanda. Tokoh yang diharapkan itu adalah dari kalangan istana yang tampil ke depan untuk memimpin mereka, beliau adalah Pangeran Diponegoro.
·         Latar Belakang Perang  Diponegoro
Ada beberapa hal yang menyebabkan Pangeran Diponegoro turun tangan dan memimpin perlawanan terhadap Belanda.
A. Sebab-sebab Umum .
            * Kekuasaan raja Mataram semakin kecil dan kewibawaannya mulai merosot. Bersamnaan dengan itu terjadi pemecahan wilayah menjadi empat kerajaan kecil, yaitu Surakarta, Ngayoyakarta , Mangkunegara dan Paku Alaman.
            * Kaum bangsawan merasa dikurangi penghasilannya, karena daerah-daerah yang dulu dibagi-bagikan kepada para bangsawan, kini diambil oleh pemerintah Belanda. Pemerintah Belanda mengeluarkan maklumat yang isinya akan menguasahakan perekonomian sendiri, tanah milik kaum partikelir (swasta) harus dikembalikan kepada pemerintah Belanda. Sudah tentu tindakan ini menimbulkan kegelisahan diantara para bangsawan, karena harus mengembalikan uang persekot yang telah diterima.
            * Rakyat yang mempunyai beban seperti kerja rodi, pajak tanah dan sebagainya merasa tertindas. Begitu pula karena pemungutan beberapa pajak yang di borong oleh orang-orang Tionghoa dengan sifat memeras dan memperberat beban rakyat.
B. Sebab-sebab Khusus
            Sebab-sebab khusus terjadinya Perang Diponegoro adalah pembuatan jalan yang melalui makam leluhur Pangeran Diponegoro di Tegal Rejo. Patih Danurejo IV (seorang "kaki tangan" Belanda) memerintahkan untuk memasang patok-patok di jalur itu. Pangeran Diponegoro memerintahkan untuk mencabutnya, namun potok-patok itu dipasang kembali atas perintah Patih Danurejo IV. Keadaan seperti ini berlangsung berkali-kali, sehingga akhirnya patok-patok itu diganti dengan tombak. Dengan penggantian patok itu menandakan kesiapan Pangeran Diponegoro untuk berperang melawan Belanda. Peperangan tidak dapat dielakan lagi dan pasti akan terjadi. Tetapi Belanda berusaha menghadapi kemelut antara kedua bangsawan tersebut dan mengharapkan tidak terjadi peperangan. Untuk itu Belanda mengutus Pangeran Mangkubumi (paman dari Pangeran Diponegoro) untuk membujuknya agar mau bertemu dengan residen Belanda di Loji. Pangeran Diponegoro menolak tawaran itu karena tahu arti semua yang dimaksud oleh Belanda. Ketika pembicaraan antara Pangeran Mangkubumi dengan Pangeran Diponegoro berlangsung, Belanda tiba-tiba telah melakukan serangan.
·         Jalannya Perang Diponegoro
Serangan itu merupakan awal mulanya Perang Diponegoro. Pangeran Diponegoro dengan Pangeran Mangkubumi berhasil meloloskan diri keluar kota dan memusatkan pasukannya di Selarong. Kemudian Pangeran Diponegoro menggempur kota Ngayogyakarta, sehingga Sultan HamengkubuwonoV yang masih kanak-kanak dibawa ke benteng Belanda. Pasukan Belanda berhasil menghalau pasukan Diponegoro. Kegagalan pasukan Diponegoro ini mendorong beliau mengalihkan peperangan di sekitar kota Ngayogyakarta dan salah satu pertempuran yang dahsyat terjadi di Plered.
Selain dibantu oleh Pangeran Mangkubumi dan beberapa bangsawan lainnya, Diponegoro juga dibantu oleh Sentot Ali Basa Prawiradirdja dan Kiai Mojo dari Surakarta. Kiai Mojo berhasil mengobarkan Perang Jihad didaerah Ngayogyakarta, Surakarta, Bagelen dan sekitarnya. Pangeran Diponegoro terus mengorganisasikan pasukannya dalam serangan gerilya. Pasukan –pasukan Diponegoro diberi nama seperti Arkiyo,Turkiyo, dan lain-lain.
Pada tahun 1826 terjadi pertempuran di Ngalengkong. Pasukan Diponegoro mengalami kemenangan yang gemilang yang mengharumkan nama Pangeran Diponegoro. Peristiwa Ngalengkong ini merupakan puncak kemenangan dari pertempuran-pertempuran yang dilakukan oleh Pangeran Diponegoro sebagai Sultan dengan gelar Sultan Abdul Hamid Herutjokro Amirulmukminin Saidin Panatagama Kalifatullah Tanah Jawa. Penobatan ini berlangsung di daerah Dekso.
Pangeran Diponegoro mengobarkan perang gerilya karewna ia mengetahui dengan pasti kekuatan pasukannya yang jauh dibawah kekutan Belanda. Tetapi dalam pertempuran di Gawok terjadi perselisihan antara Pangeran Diponegoro dengan Kiai Mojo mengenai masalah pemerintahan dan agama. Dalam perselisihan itu Diponegoro berpendapat bahwa masalah pemerintahan dan agama harus dipegang oleh satu tangan,karena kedua unsur itu dianggap saling membantu. Sedangkan menurut Kiai Mojo kedua masalah itu harus dipegang terpisah. Tampaknya perselisihan itu, juga tentang siasat perang, karena menolak usul perang terbuka dari Kiai Mojo. Tahun 1829 merupakan saat yang sangat kritis bagi Pangeran Diponegoro. Satu-persatu pengikutnya mulai meninggalkan dan memisahkan diri. Setelah Kiai Mojo memisahkan diri dari kelompok Pangeran Diponegoro,juga Sentot Ali Basa Prawiradirdja yang menginginkan perang terbuka dan menolak siasat perang gerilya.
Sentot Ali Basa Prawiradirdja akhirnya menyerah kepada Belanda setelah syarat-syarat yang diajukan diterima oleh Belanda. Syarat-syarat tersebut diantaranya pemberian pinjaman sebesar 10.000 ringgit, tetap mempunyai barisan yang jumlahnya 1000 orang, diberikan senjata sebanyak 5000 buah senapan, dan tetap memeluk islam.
Dengan terpenuhinya syarat-syarat itu maka tanggal 20 Oktober 1829 Sentot Ali Basa menyerah kepada Belanda di Yogyakarta. Kedatangan Sentot Ali Basa bersama pasukannya disambut oleh Belanda dengan suatu upacara militer. Sentot diangkat oleh Belanda dengan pangkat Letnan Kolonel, yang langsung berada dibawah pimpinan Jenderal De Kock.
Menyerahnya Sentot ini menyebabkan Pangeran Diponegoro kehilangan banyak pengikut dan kekuatannya pun semakin berkurang. Kemudian Belanda menjanjikan hadiah bagi setiap siapa saja yang dapat menagkap Pangeran Diponegoro, namun usaha itupun mengalami kegagalan.
Belanda cukup banyak mengeluarkan biaya dalam perang Diponegorodan bermaksud segera mengakhiri peperangan, dengan cara melaksanakan perundingan.
·         Akhir Perang Diponegoro
Kolonel Cleerens berhasil mengadakan perundingan pendahuluan sekitar bulan Februari 1830. Perundingan selanjutnya diadakan di Magelang pada Maret 1830. Perundingan tersebut berhasil dilaksanakan antara Pangeran Diponegoro dengan Belanda(diwakili oleh Jenderal De Kock). Dalam perundingan tersebut Pangeran Diponegoro mengajukan tuntutan yaitu Pangeran Diponegoro menginginkan sebuah negara merdeka dibawah seorang Sultan dan juga ingin menjadi Amirulmukminin di seluruh tanah Jawa serta sebagai kepala negara bagi masyarakat islam.
            Tuntutan itu tak dipenuhi oleh Belanda sehingga tawar menawar pun terjadi. Hasil perundingan itu sudah tidak ada harapan lagi. Melihat keteguhan hati Pangeran Diponegoro akhirnya kekebalan diplomatik yang dimiliki Pangeran Diponegoro disingkirkan oleh Belanda. Pangeran Diponegoro ditangkap dan ditawan di Batavia, kemudian di Manado. Selanjutnya , Pangeran Diponegoro ditawan di Makassar(Benteng Rooterdam). Pangeran Diponegoro meninggal di Makassar pada tanggal 8 Januari 1855.
            Dengan tertangkapnya Pangeran Diponegoro, maka berakhirlah perang Diponegoro denga Belanda. Belanda mengakui bahwa Perang Diponegoro merupakan perang paling hebat karena pihak Belanda banyak mengeluarkan biaya perang.
DAFTAR PUSTAKA
Badrika, I Wayan. 2006. SEJARAH. Jakarta : Erlangga.
Iskandar, Mohammad dkk. 2007.Sejarah Indonesia dalam perkembangan zaman. Jakarta :Ganeca Excat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar