Jumat, 26 Juli 2013

PERLAWANAN DIPONEGORO


ELFIDAYATI / SI3

            Mataram kehilangan kekuatannya disebabkan oleh mataram itu sendiri. Ini dapat dilihat dari kehancuran-kehancuran yang dapat menguntungkan pihak Belanda. Dimana pada abad 17 kekuasaan Belanda mulai tertanam di banyak wilayah di Indonesia. Terutama di wilayah jawa. Dan juga pada abad ke 18 yang berhak untuk melantik siapa yang akan menjadi Sunan juga ditentukan oleh Belanda. Dari situ kita dapat melihat bagaimana Belanda mulai menanamkan kekuasaannya di Indonesia. Salah satunya yaitu belandalah yang berhak menentukan siapa yang akan dilantik oleh belanda agar menjadi Sunan. Kehancuran yang disebabkan oleh mataram itu sendiri telah membuat pihak belanda menjadi untung. Banyak pelabuhan yang jatuh ketangan Belanda. Dengan jatuhnya banyak pelabuhan ketangan belanda maka akan membuat mataram kehilangan asset dan itu menguntungkan pihak belanda. Dengan kata lain juga dapat dikatakan bahwa wilayah kekuasaan mataram menjadi menyempit akibat dari penguasaan Belanda. Hal-hal yang membuat hancur adalah adanya perpecahan dan perebutan kekuasaan dan ini akan membuat pihak kraton menjadi sulit.
            Kemudian disisi lain rakyatlah yang menderita dan semakin tertekan karena begitu banyak jenis pajak yang dipungut dari rakyat. Dan tidak cukup hanya sampai disana, Belanda juga telah mempengaruhi pihak istana dengan kebiasaan kebiasaan yang buruk seperti meminum-minuman keras yang pada akhirnya hal tersebut membuat para bangsawan kecewa. Bahkan telah meluas dikalangan masyarakat. Termasuklah pangeran Diponegoro yang ikut merasakan kekecewaan para bangsawan tersebut. Dimana ketika Belanda mananamkan pengaruh buruk di Istana, Belanda juga melakukan hal-hal yang dianggap oleh Diponegoro telah kelewatan sekali sewenang-wenang di daerahnya. Pun demikian juga dengan rakyat, kalangan istana, pemuka agama tengah geram terhadap tindakan-tindakan Belanda. Hanya saja mereka semua belum berani memberontak dan hanya menunggu seorang pemimpin untuk menyemangati mereka dan memotivasi mereka agar merka bersatu melawan Belanda dan mencoba menghentikan tindakan Belanda yang sangat melanggar aturan agama tersebut.
            Belanda telah menyinggung kehormatan pangeran Diponegoro. Tanpa pembicaraan terlenih dahulu Belanda membuat jalan rel kereta api. Dan rel kereta api tersebut telah melintasi tanah leluhur dari pangeran Diponegoro. Maka pengeran Diponegoro mulai bergerak dan ia mulai mengangkat senjata pada 20 juli 1825. Namun rpangeran Diponegoro tidak hanya sendiri. Ia akan dibantu oleh rakyat yang juga merasa senasip dan sepenanggungan terhadapnya. Maka mere semua akan bersatu dan bersama-sama melawan pihak Belanda demi membela daerahnya. Kemudian Belanda membakar kediaman dari pangeran Diponegoro. Setelah itu pangeran Diponegoro meninggalkan Tegalrejo. Begitu banyak yang memdukung pangeran Diponegoro. Yaitu dari berbagai tempat dan berbagai kalangan ingin berada di pihak Diponegoro. Dan perlawanan rakyatpun menjadi meluas seperti pada daerah Purwodadi, Pacitan, Pekalongan Banyumas, Rembang, Semarang dan Madiun. Pertempuran besarpu terjadi di berbagai tempat. Dan hal ini cukup membuat Belanda kewalahan dan membuat kerugian di pihak Belanda. Pangeran Diponegoro banyak mendapatkan kemenangan perang. Salah satu pendukung kemenangannya adalah seperti taktik perang yang ia gunakan. Pangeran Diponegoro memakai taktik perang Gerilya. Taktik ini adalah taktik diam-diam, dimana saat pihak Belanda tengah lengah atau misalnya saat dimalam hari mereka mulai tidak begitu siap untuk berjaga-jaga, maka saat itulah pasukan Diponegoro melakukan aksinya untuk melawan pihak Belanda. Hal ini lah yang juga merupakan alasan Belanda harus menambah kekuatan pasukannya dengan cara menambah pasukannya. Pada tahun 1827 diadakanlah upaya perdamaian, namun upaya itu gagal dan membuat pihak Belanda terus-menerus menambah pasukannya agar mereka menjadi kuat demi melawan pasukan pangeran Diponegoro. Ketika itu lah satu persatu pasukan Diponegoro mulai terdesak dan menyerahkan diri mereka kepada Belanda. Dimana saat itu Belanda juga mengeluarkan siasat agar mereka dapat memberantas perlawanan dari pihak Diponegoro. Pihak Belanda menjalankan siasat Benteng Stelsell. Tujuan Belanda adalah agar Belanda dapat mempersempit pergerakan dari pasukan Diponegoro dan dapat menakhlukkannya.
Pada tahun 1829 pasukan Diponegoro mulai terdesak dan beberapa pembantu pangeran Diponegoro terpaksa harus menyerahkan diri seperti Pangeran Suryamataram dan Ario Prangwedono, Pangeran Mangkubumi dan Sentot Prawirodirjo. Sedangkan Pangeran Serang, Pangeran Notoprojo menyerahkan diri.Kiyai Mojo telah duluan tertangkap oleh pihak Belanda. Beberapa pimpinan lainnya telah gugur di medan perang. Tentunya ini adalah hal yang membuat pangeran Diponegoro terpukul. Sungguh mulianya mereka memperjuangkan daerah kita dari tekan pihak Belanda. Maka semangat juang mereka patut kita contoh agar kita menjadi berguna terhadap sesama bangsa dan Negara. Namun perjuangan tidak berhenti hanya sampai disini. Semangat perjuangan yang dimiliki oleh pangeran Diponegoro tetap berkobar dan ia akan tetap pada pendiriannya akan melawan pihak Belanda.
Pada tahun 1830 Belanda berusaha mengakhiri perang dan mencoba malkukan perundingan kembali dengan pangeran Diponegoro dengan catatan jika perundingan batal maka peperangan boleh untuk dilanjutkan kembali. Sebelum perundingan dilakukan, pihak Belanda telah mengatur siasat untuk menangkap pangeran Diponegoro, yaitu Jenderal De Kock telah mengatur strategi jika perundingan yang akan dilakukan di residen Kedu (28 maret 1830) itu gagal dan menemui jalan buntu.
Didalam perundingan pangeran Diponegoro menuntut agar ia diakui bahwa beliau adalah pimpinan umat Islam di seluruh Jawa. Dan alhasil perundingan tersebut gagal. Belanda mencurangi pangeran diponegoro yang pada awaknya ia mengatakan jika perundingan gagal maka peperangan akan dilanjutkan kembali, tetapi apa buktinya ? Balanda telah tidak sportif dengan apa yang telah terjadi. Malahan Diponegoro ditangkap dan Belanda mengingkari janjinya. Sebelumnya kereta untuk membawa pangeran Diponegoro telah disediakan oleh pihak Belanda. Dan selanjutnya pangeran Diponegoro di bawa ke Semarang dan kemudian di bawa lagi ke Batavia.  Pada Mei 1830 beliau diangkut dari tempat pembungannya yaitu di Manadodan kemudian pada 1834 ia di pindahkan ke Makasar . Dan pangeran Diponegoro wafat pada 8 Januari 1855.
Pada perang Diponegoro inidapat kiata katakana sebagai pergolakan yang besar yang dihadapi oleh pihak colonial Belanda. Dimana dengan adanya pemberontakan yang dilakukan Pangeran Diponegoro dan para pendukungnya juga sempat membuat pihak Belanda kewalahan dan menyebabkan kerugian yang cukup besar bagi belabda. Dimana Belanda tentulah pastinya akan banyak membutuhkan banyak pasukan, dan tentaranya telah tewas sabanyak 8.000 orang. Dan bagi mataram peperangan ini akan menyebabkan kedudukan sultan melemah dan Belanda semakin merajalela.
Setelah perang ini berakhir maka Belanda akan gencar-gencarnya memutar otak untuk mengembalikan kerugian didalam perang. Maka dari sinilah mulai timbul dan pihak Belanda melaksanakan system tanam paksa agar membangun kembali dan memajukan kembali kemakmuran belanda yang kita sebelumnya Belanda sempat merasa kewalahan melawan pasukan Diponegoro terebut.
Bentuk-bentuk pajak yang menyengsarakan rakyat pada saat itu seperti :
1.      Kerig aji
2.      Pajak tanah
3.      Pajak halaman-pekarangan
4.      Pajak jumlah pintu
5.      Pajak ternak
6.      Pajak pindah nama atau pajak menyewa tanah atau menerima jabatan.
(Sartono Kartodirdjo,  Pengantar Sejarah Indonesia Baru : 1500-1900 dari Emporium sampai Imperium 381:1987)
 
DAFTAR PUSTAKA
Aziz, Dra. Maleha dan Asril, S.Pd. (2006), Sejarah Indonesia III, Pekanbaru: Cendikia Insani
Kartodirdjo, Sartono. (1987), Pengantar Sejarah Indonesia Baru : 1500-1900 dari Emporium Sampai Imperium, Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar