HOME DOWNLOAD MAKALAH BAHAN AJAR

Kamis, 25 Juli 2013

PERLAWANAN RAKYAT ACEH


Siti Wulandari/b/SI3
Perang Aceh adalah salah satu perlawanan yang berat bagi kaum Belanda. Dari sekian banyak perlawanan di daerah-daerah di Indonesia saat abad ke 19, perlawanan Aceh termasuk yang paling berat. Ini di karenakan sulitnya rakyat Aceh di taklukan oleh Belanda.  Pada awal abad ke 19 ini yang menjadi sultan adalah Ala'uddin Muhammad Daud Syah (1823-1828) yang sangat berwibawa dan meningkatkan pemerintahan pusat. Pada tanggal 17 Maret 1824 Inggris dan Belanda menandatangani sebuah perjanjian yang isinya Belanda tidak boleh menganggu kemerdekaan negara Aceh, setelah Belanda memperoleh kembali jajahan yang selama perangdi rebut oleh Inggris. Namun itu tampaknya hanyalah bersifat politik saja.
Pada tahun-tahun berikutnya Aceh harus mengakui pemerintahan Hindia-Belanda di Sumatera Timur. Hal ini membuat Aceh semakin kalang kabut karena kekuasaan Belanda sudah semakin meluas hingga ke Aceh setelah di tandatangani teraktat Sumatera. Karena pada saat itu Aceh menjadi wilayah yang semakin strategis dan penting. Sejak dahulu wilayah Aceh memang sudah menjadi wilayah yang penting dengan segala apa yang ada terutama pelabuhan-pelabuhannya yang bersinggungan langsung dengan Selat Malaka yang notabenenya menjadi pusat perdagangan dunia kala itu.
Tahun 1869 Terusan Suez suadah di buka, dan Aceh menjadi intaian yang besar bagi Belanda kala itu. Karena Aceh menjadi pintu gerbang menuju Selat Malaka. Dengan di bukanya Terusan Suez perdagangan dunia menjadi semakin ramai dan ini sangat menguntungkan bagi Hindia Belanda, sehingga mereka sangat ingin menguasai Aceh.
Akhirnya pada tahun 1873 Komisaris  F.N. Nieuwenhuysen mengirim surat keapda Sultan Aceh yang isinya sangat mengejutkan, yaitu Aceh harus mengakui kekeuasaan Hindia Belanda atas negaranya. Tentu saja sultan dengan tegasnya menolak isi surat tersebut. Komisaris Hindia Belanda tidak hanya sekali menulis surat itu, beberapa kali ia mngirim surat itu namun jawabannya tetap sama dari Sultan Aceh untuk menilak kedaulatan Hindia Belanda atas negaranya.
a.       Peperangan
Aceh yang sudah lama menaruh kecurigaan terhadap Belanda kini sudah mulai mengerti akan maksud pemerintah Hindia Belanda selanjutnya. Dengan ini pula rakyat Aceh membuat pertahanan yang kuat. Pada awalnya Hindia Belanda hanya mengaggap lemah Aceh dalam perlawanan ini dan mudah di kalahkan, namun pada akhirnya rakyat Aceh tidak mudah untuk di kalahkan dan Belanda terseret dalam peperangan ini dalam waktu yang lama.
Pada tanggal 5 April 1873 Belanda dengan pasukan yang jumlahnya lebih dari tiga ribu orang mendarat dari kapal perangnya. Pasukan ini di pimpin oleh J.H.R Kohler. Penyerbuan ini pun pada akhirnya membuat para pejuang Aceh menundurkan diri, karena perthanan di pantai sebelah barat daya Kota Pantai Cermin sudah tidak bisa di pertahankan lagi. Pasukan Aceh menambah kekuatan untuk mempertahankan Masjid Raya Baiturachman karena di duga Belanda akan menggerakkan pasukannya untuk menyerang. Belanda sempat di pukul mundur  oleh pejuang Aceh namun kembali menyerang lagi dengan pasukan yang lebih besar. Namun belanda gagal kembali dalam pertmpuran ini.
            Pada tanggal 14 April 1873 masjid raya  berhasil di kuasai oleh Belanda, namun di saat itu juga Jenderal Kohler berhasil di tembak oleh prajurit Aceh ketika Ia sedang berjalan melihat dan memeriksa masjid yang baru saja di rebutnya itu. Seketika itu rakyat yang mendengar semakin meninggi rasa perlawanan terhadap Belanda karena masjid sudah di kuasai Belanda. Dengan itu pula pusat pemerintahan menjadi di Masjid tersebut. Dan tidak lama kemudian Belanda juga menduduki kawasan Istana Kesultanan Aceh.
            Semangat perlawanan pejuang Aceh sangat menyulitkan pihak Belanda. Belanda sebenarnya hanya menguasai istana sultan dan daerah-daerah yang didiami serdadunya.  Kemudian nampak bahwa Belanda mengganti taktiknya jenderal pel yang menggantikan Van Swieten pada bulan April 1874 mulai membangun pos-pos pertahanan di Kutaraja   yang berfungsi sebgai garis pembendung. Pada tahun 1877 sekembalinya Habib Abdurrahman dari Turki ia mengadakan perundingan dengan Teuku Cik Ditiro untuk membahas strategi peperangan mengalahkan Belanda. Penyerangan ini bertujuan untuk mengacaukan pihak Belanda dengan menyerbu pos-pos dan gudang senjata sehingga mampu memperlemah pertahanan Belanda. Meskipun pada akhirnya Habib Abdurrahman menyerah terhadap Belanda, namun Teuku Cik Ditiro masih berjuang melawan Belanda. Di aceh Barat pun pertempuran sengit tidak kalah terjadi. Pertempuran yang di pimpin oleh Teuku Umar dan istrinya Cut Nyak Dien ini banyak menimbulkan kesulitan bagi pihak Belanda. Pada saat pertempuran ini Teuku Umar di paksa mundur dari kampong halamannya di Darat, dan akhirnya Teuku Umar bergeser ke Aceh Besar dan menghncurkan pos-pos penjagaan Belanda. Hingga memasuki tahun 1880 situasi di Aceh semakin sulit bagi Belanda, ini di karenakan semangat yang selalu di kobarkan oleh pejuang Aceh, melalui karya sastra yang mengisahkan perlawanan Aceh berhasil membuat rasa perjuangan kian panas untuk melawan Belanda. Taktik gerilya yang di gunakan Aceh sangat menguntungkan para pejuang. Karena Belanda hanya terpusat pada satu wilayah namun pejuang Aceh mengepung wilayah-wilayah lain.
             Belanda merasa bahwa melawan rakyat Aceh dengan senjata bukanlah cara yang tepat untuk menaklukannya. Karena sifat keras agama dan sosial buadaya yang dimilki masyarakat Aceh sangat kental dan sulit untuk di taklukan. Untuk itu Belanda mengutus Dr. Snouck Hurgronje yang faham tentang agama islam untuk memecahkan kesulitan dalam menghadapi penaklukan Aceh. Snouck Hurgronje di lahirkan di Oosterhout Belanda. Ia termasuk salah satu tokoh yang controversial dalam penjajahan Belanda kala itu. Ia mengenal agama islam saat belajar di Fakultas Teologi Universitas Leiden. Ia lalu pindah ke Fakultas Sastra jurusan Sastra Arab hingga meraih gelar Doktor. Sekembalinya dari Arab untuk mendalami ilmu islam dan bahasa Arab ia membantu pemerintahan Hindia Belanda untuk mengatasi ketakutan pemerintah colonial terhadap Islam. Terutama menbantu Hindia Belanda dalam penaklukan Aceh ini. Saat itu ia menyamar dan mengubah namanya menjadi Abdul Gafur dan membaur dengan masyarakat Aceh tepatnya di Peukan, Aceh. Dari hasil penelitiannya terlebih dari keterangan surat yang di tulis Teuku Cik Ditiro yang pernah ia terima, bahwasanya titik perjuangan dan kekuatan Aceh bukan pada pemimpinnya melainkan pada para ulama, rakyat Aceh lebih tunduk kepada ulama oleh karena itu Aceh sangat sulit di taklukan karena keyakinan yang kuat terhadap agamanya.
            Ini menjdi jalan bagi Belanda untuk memecah belah Aceh, kaum ulama tetap di hadapkan dengan senjata oleh Belanda. Sedangkan anak bangsawan di berikan kesempatan untuk memasuki korps pamong praja. Dengan begitu maka rakyat Aceh akan terpisah dari golongan ulama sehingga bisa di pecah dengan mudahnya oleh Belanda.
b.      Akhir Perang
Terkadang, pasukan Belanda masih diserang dan orang Aceh masih tetap berperang secara gerilya. Di saat yang sama, Van Heutsz diangkat sebagai mayor jendral dan diangkat sebagai komandan di Militaire Willems-Orde. Semua tetua di Aceh menyerah pada pemerintah Belanda dan keadaan di Pedir dilaporkan menguntungkan. Pada awal tahun 1901, dilancarkan ekspedisi ke samalanga. Tanah Merah tidak melawan; dari Samalanga, Belanda melangkah lebih jauh ke Batee Iliek yang sedang bergolak, di mana pasukan Belanda pernah menyerang pada tahun 1882. Pada tanggal 1 dan 2 Februari, pertahanan musuh di Batee Iliek dan asam kumbang diserang oleh angkatan laut; setelah dimulainya serangan, 4 pertahanan pejuang Aceh ditaklukkan, yang setelah itu kedudukan musuh yang dipertahankan secara sengit diserbu oleh infanteri, marechaussee, dan divisi pendaratan. Dalam memperkuat diri selama pertempuran sengit, pejuang Aceh melemparkan 1 tong mesiu, di mana let,  Verschuir dan 9 orang lainnya terkena luka bakar serius. Dengan serbuan ke Batee Iliek itu, beberapa pucuk senjata dirampas. Belanda kehilangan beberapa personel: 5 orang terluka dan 29 terluka. Asan Kumbang akhirnya tidak melawan lagi.
Pasukan Belanda yang di pimpin oleh Kolonel J.B van Heutz, melakukan penyerangan ke daerah Pidie, karena pemimpin perang seperti Teuku Umar dan Panglima Polem berada di wilayah itu. Saat bergrilya ke Aceh Barat ternyata rencana Teuku Umar tercium musuh sehingga pada tanggal 11 Februari 1899 Belanda berhasil menyerang dan gugurlah Teuku Umar. Sementara istrinya, Cut Nyak Dien di tangkap dan buang ke Jawa Barat.
Sementara itu Panglima Polim dan Sultan masih tetapa mengadkan peralawanan dan bergerilya agar nasib buruk Teuku Umar tidak menimpa mereka. Suatu peristiwa yang tak di duga, istri Sultan Pocut Murong tertangkap oleh Belanda, di tambah lagi tekanan-tekanan dari pihak Belanda yang membuat Sultan Alaudin Muhammad Syah terpaksa menyerah pada Belanda. Panglima polim pun tak kalah buruknya dengan Sultan, istri, ibu serta anak-anaknya berhasil di tangkap oleh Belanda. Di samping itu serangan pasukan Belanda datang terus-menerus. Karean keadaan sudah mendesak maka PanglIMA Polim dengan sisa pasukan yang berjumlah 150 terpaksa menyarah kepada Belanda pada tanggal 6 September 1903. Dengan ini maka perlawanan rakyat Aceh menjadi semakin lemah dan menjadi jalan untuk Belanda menanamkan kekuasaannya di wilayah Aceh. Namun bukan berarti perjuangan rakyat Aceh lenyap sama sekali, kenyataanya bahwa masih ada perlawanan rakyat Aceh terhadap pemerintah Kolonial Belanda.
 
DAFTAR PUSTAKA
Marwati Djoened Poesponegoro, Nugroho Notosusanto. 1984. Sejarah Nasional Indonesia IV. Jakarta. Balai Pustaka.
Prof. Dr. M. Habib Mustopo dkk.2007. Sejarah SMA Kelas XI Program IPS. Jakarta. Yudhistira.
Wikipedia

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar